Oleh: admin1970 | 26 Juni 2009

Siapa Peduli Dengan Bangkrutnya Toko/Warung Retail Di Sekitar Kita?

toko retailBagi yg lama tinggal di sekitar kampus IPB sekarang, pasti merasakan perubahan yg cukup cepat. Termasuk saya. Saya masuk Darmaga tahun 1990, saat masih mahasiswa. Saat itu masih relatif sepi, lengang, tanpa macet. Warung dan toko juga masih relatif sedikit dan kecil-kecil. Masih ingat waktu itu, warung Yunani (he..he..pasti temen juga tahu ya) masih kecil, seperti warung kopi. Fotokopi Agus juga masih kecil dg 1 buah mesin fotokopi.

Seiring bertambahnya waktu, terjadi perubahan. Seiring bertambahnya jumlah mahasiswa yg pindah dari baranangsiang ke Darmaga. Warung Yunani semakin besar, fotokopi Agus juga semakin banyak mesin fotokopi yg dimiliki. Banyak toko-toko/warung retail yg menjual berbagai kebutuhan sehari-hari juga tumbuh bak jamur di musim hujan.

Setelah sekian tahun berjalan (th 2009), warung-warung makan tetap tumbuh dg pesat.Rental komputer semakin banyak. Tempat foto kopi juga demikian.   Tapi ke mana toko-toko retail yg biasa memenuhi kebutuhan mahasiswa? Ya, satu demi satu toko-toko tadi gulung tikar. Yang masih adapun kembang kempis, hidup segan matipun enggan. Kenapa terjadi demikian?

Sejak masuknya toko-toko retail bermodal besar muncul di sekitar kampus. Tercatat mulai dari darmaga-cibanteng terdapat ada 5 toko sejenis tadi (salah satunya di dalam kampus). Dipastikan toko/warung retail bermodal kecil di sekitar toko retail bermodal besar tadi merasakan dampaknya. Semakin hari semakin sepi pembeli. Satu demi satu hilang berganti “bisnis” lain atau disewakan. Yang masih ada, hanya untuk menghabiskan barang dagangan yg masih ada.

Wajarlah terjadi demikian, dengan harga yg lebih miring, tempat yg lebih nyaman, pelayanan yg lebih ramah (meski nampak dipaksakan) dan kelebihan- kelebihan yg lain. Dipastikan toko-toko retail kecil akan tergusur. Hal ini terjadi di banyak tempat, di sekitar kita. Siapa yg harus disalahkan? Siapa yg peduli dengan nasib mereka?  Entahlah………

Bagaimana pendapat anda?

Salam Hangat,

ahartoyo


Tanggapan

  1. ngedukumg kontes seo nya ajah ya….alnya artikel ini nggak ke baca…maaaf..

  2. Betul mas, kayaknya sudah pada ndak peduli. Padahal semakin lama semakin banyak yg gulung tikar. lha wong jankrik kok lawan macan!

  3. saya juga miris dengan fenomena ini,saya termasuk salah satu “pemainnya”.menurut saya toko yg saya kelola termasuk menengah,hal ini jadi dilema,satu sisi saya merasa kasian dengan tk “kecil” dekat rumah,saya ingin memberi kesempatan mereka mencari rejeki buat keluarganya,di satu sisi saya harus juga menghadapi persaingan,terutama harga dengan toko “besar”.konsumen menuntut harga yg bersaing.sampai saat ini saya belum menemukan solusi yg terbaik.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori