Oleh: admin1970 | 8 April 2008

Bertahan Hidup dari Jasa ‘Pengaman’ Hajatan


Rabu, 9 April 2008 – 05:41 wib

MOJOKERTO – Meski sudah diujung usia, tekad hidup mandiri Saringah patut diacungi jempol. Janda berumur 80 tahun ini tak pernah mengeluh.

Hidup yang jauh dari kata cukup, tak membuat Saringah putus asa menjalani sisa hidupnya. Di gubuk yang reot dan berdiri diatas tanah eks desa itu, janda sebatang kara ini terus menjalani hidupnya dengan segala kekuatan yang tersisa.

Namun, kondisi fisik yang sudah mulai tak normal ini justru membuatnya lebih keras untuk tetap bertahan disela-sela sulitnya hidup. Ia terus mengasah keahliannya untuk mendapatkan meneruskan ‘perjuangannya’ itu.

Ya, hanya dari keahlian supranatural yang dia miliki, Saringah mampu membeli kebutuhan yang hanya untuk perutnya itu. Dan itupun menurutnya, masih jauh dari kebutuhan yang sebenarnya.

“Kalau ada hajatan, saya biasanya diminta untuk mengamankan. Selain untuk ‘melawan’ hujan, juga agar hajatan itu tak ada masalah,” tutur wanita yang bermukim di RT 2/ RW 2 Lingkungan Suratan, Kelurahan Kranggan, Kec Prajurit Kulon, Kota Mojokerto ini.

Upah yang dia terima pun beragam. Mulai yang hanya sekedar bisa untuk membeli beberapa kilogram beras, hingga pakaian yang hanya berjumlah bijian itu. Namun dia mengaku akan tetap mempertahankan profesinya itu.

“Nggak mesti, tergantung belas kasihan yang punya hajatan,” tukas perempuan asal Banyumas, Jawa Tengah ini.

Namun menurut dia, bukan berarti profesi yang dia jalani tersebut mampu memenuhi kebutuhan perutnya. Ia mengaku sering mendapatkan bantuan dari beberapa tetangganya yang memiliki belas kasihan terhadapnya. Bantuan yang ia terimapun beragam, mulai dari beras, hingga keperluan mandi.

“Kadang juga mendapatkan bantuan pakaian bekas. Apa saja saya terima,” tuturnya.

Kondisi serba kekurangan seperti ini ternyata tak membuatnya menjadi peminta-minta. Pantang bagi Saringah meminta-minta hanya sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya. Dia berprinsip, lebih baik mengerjakan sesuatu yang menghasilkan daripada harus menjadi pengemis.

“Selagi saya bisa berjalan, saya akan tetap bekerja, meski pekerjaan saya ini tak menentu,” katanya lugas.

Sedikit yang membuat dirinya gundah. Yakni soal tempat berteduh. “Selama ini saya menempati gubuk tua di atas tanah eks desa. Ada angan-angan untuk memiliki rumah sendiri, tapi saya pikir tidak mungkin tercapai. Jadi ya saya syukuri saja,” katanya setengah berharap.

Dalam pandangan Isnaini dan Parnadi, dua perangkat RT, Saringah adalah sosok yang gigih. Meski sebatang kara, ia tak pernah berkeluhkesah atau pun sampai merepotkan tetangganya.

“Kalau pun ia mendapatkan kesulitan biasanya hanya ia telan sendiri. Namun, para tetangga yang sudah menggangap Saringah sebagai sesepuh warga, justru yang aktif bergantian menengok dirinya,” ujar Isnaini. (Tritus Julan/Sindo/jri)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: