Oleh: admin1970 | 18 April 2008

Asia Terancam Krisis Beras


Okezone. 18 April 2008

BANGKOK – Harga komoditas pangan di Asia belum menunjukkan tandatanda penurunan sedikit pun. Harga pangan di Thailand bahkan naik 10 persen dibandingkan pekan lalu.

Hal ini menimbulkan ketakutan akan adanya kekurangan persediaan pangan di Asia. Sejak awal tahun ini, beberapa negara pengekspor di Asia membatasi kapasitas ekspornya. Mereka hanya menjual kepada pemerintah Filipina yang menjadi negara importir terbesar dunia sebanyak 2/3 dari total yang dibutuhkan negara itu. Thailand sebagai negara eksportir pangan juga berjuang untuk memenuhi kebutuhan negaranya sendiri.

Hal ini dipengaruhi dengan harga seri benchmark dunia yang menyebabkan harga beras mencapai USD950 per ton. “Semua orang harus menyadari bahwa tidak lama lagi tidak ada beras yang murah,” ujar Chareon Laothamatas, Direktur Manajer Uthai Produce Co Ltd, perusahaan eksportir beras wangi premium di Thailand.

Filipina menjadi isu politik hangat dunia. Untuk memenuhi kebutuhan pangannya, negara tersebut harus membeli beras dengan harga yang ditawarkan USD872,50-USD1.220 per ton dari negara-negara lain.Harga ini sangat mahal dibandingkan dengan harga pada Maret yang hanya mencapai USD700 per ton.

Pedagang di Bangkok mengaku bahwa harga beras di Thailand juga mengalami kenaikan. Beras setengah matang dijual USD960 per ton kepada negara Afrika untuk pengiriman Mei dan Juni. Sementara itu, beras wangi premium Thailand dijual USD1.200 per ton kepada importir Hong Kong dan Amerika Serikat (AS).

“Ada peningkatan permintaan terhadap beras setengah matang dan juga beras putih. Hal itu bagus karena kami mengharapkan pembeli akan terus membeli,” ujar Sekretaris Umum Asosiasi Eksportir Beras Thailand Korbsook Iamsuri.

Sementara itu, dalam usahanya memenuhi kebutuhan pangan,kemarin pemerintah Filipina mengumumkan larangan penggunaan lahan pertanian untuk usaha nontani. Langkah ini dilakukan agar pemerintah mengurangi impor beras yang harganya telah mencapai lebih dari dua kali lipat.
Larangan ini ditunjukkan kepada pengusaha developer yang telah membuat tren pembangunan properti di kalangan masyarakat Filipina. Akibatnya, lahan pertanian semakin berkurang demi mengembangkan usaha tersebut. Sekretaris Program Perbaikan Pertanian Filipina Nasser Pangandaman mengatakan, larangan ini mempunyai efek langsung kepada pengusaha developer untuk mencegah konversi lahan pertanian ke pembangunan real estate. (sindo//hsp)


Responses

  1. Makan roti saja Boss!

  2. Makan apa aja asal halal dan sehat. Kita kaya kok bahan pangan, ada umbi2an, kacang2an dll. Tinggal kitanya mau tidak. Jadi tak tergantung 1 bahan pangan aja….thx


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: