Oleh: admin1970 | 23 Oktober 2009

Pak Anton Sang Mantan Mentan Itu……(bahan renungan)


anton apriantonoSetelah saya posting tentang menteri termiskin di dunia, sekarang saya posting cerita, pernik-pernik tentang pak Anton, yang semoga bisa menjadi bahan renungan buat kita semua.

Suatu hari empat tahun lalu, Anton Apriyantono sedang mengajar di Kampus IPB Darmaga ketika ditelepon Sudi Silalahi untuk bertemu SBY di Puri Cikeas. Mulanya, ia tak begitu saja percaya pada si penelepon, sampai Sudi memberikan keterangan yang meyakinkan bahwa dirinya memang ‘’orang SBY’’ – yang baru saja terpilih sebagai presiden menggantikan Presiden Megawati.

Anton sempat menawar agar ia diberi waktu lebih longgar untuk datang. ‘’Bukan apa-apa, soalnya saat itu saya sedang ngajar. Saya juga harus mencari sopir yang tahu jalan ke Cikeas,’’ ungkap Anton dalam sebuah buka bersama di rumah dinasnya. Ternyata, sopir yang dibutuhkan tidak didapat. Akhirnya Anton memutuskan menyetir sendiri, didampingi rekan sepengajiannya, Dr Ahmad.

Ketika sampai di Puri Cikeas, para petugas jaga mengira Anton hanyalah sopir yang membawa calon menteri. Ia pun disuruh memarkir mobil pada kaplingnya dan diminta menunggu di ruang tunggu. Eh, ternyata si ‘’sopir’’ justru berjalan menuju tempat SBY sementara rekannya ke ruang tunggu. ‘’Wah, tapi tas dan sepatu saya nggak lusuh seperti yang diberitakan.

Tapi barangkali kalau dibandingkan dengan penampilan calon menteri lain memang begitu ya,’’ kenang Anton sambil tertawa.
Anton memang dikenal bersahaja sejak dulu. Saat ia diangkat menjadi Mentan dalam Kabinet Indonesia Bersatu yang dikomandoi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Daisy Irawan lewat surat elektronik panjang memberi kesaksian tentang sosoknya. Daisy adalah sarjana alumnus UGM Yogyakarta yang dekat dengan Anton tatkala mengambil master di bidang food science di IPB.

Tulis Daisy:
Hari ini, kecelelah orang-orang yang selama ini memandang rendah terhadap beliau. Tergondok-gondoklah orang yang menertawakan kaus kakinya yang bolong. Terhinalah mereka semua yang hobi menghina-hina orang karena hal-hal duniawi. Pak Anton yang sederhana, yang bertahun-tahun tidak punya televisi karena menurut beliau lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya, yang suka ‘’merepotkan’’ karena sifatnya yang perfeksionis, yang rewel dengan status kehalalan makanan — sifat yang ini menguntungkan saya sebagai tukang cicip🙂 — eh, hari ini sudah resmi jadi menteri!

‘’Sungguh perjalanan hidup yang tak disangka pula saya berkesempatan mengenal beliau secara pribadi baik sebagai mahasiswa Program Studi Pasca Sarjana IPB maupun asisten beliau semasa kuliah. He is one of the best!’’ lanjut perempuan beragama Katolik yang bekerja di Indofood.

Dalam Resonansi-nya di Republika, Zaim Uchrowi yang alumnus IPB menulis: ‘’Sebagai ilmuwan, Anton Apriyantono dikenal perfeksionis, konsisten, pekerja keras, dan fokus. Ia memperjuangkan ’halal’ di tengah masyarakat yang katanya agamis ini. Ia mengikhlaskan hidup untuk perjuangannya itu.’’
Perjuangan Anton didukung anugerah berupa indera penciuman yang tajam untuk menggeledah jenis dan kualitas makanan atau minuman. ‘’Sebagai seorang flavour scientist, saya selalu curious dengan bau-bauan. Saya punya kebiasaan mencium apa-apa yang akan dimakan,’’ aku pakar pangan IPB ini.
Suatu pagi Rossi, sang istri, menyodorkan mie goreng buat sarapan suami. Dengan bersemangat, Anton menuju meja makan. Tapi, dari jarak agak jauh, hidungnya sudah membau kurang enak. Ia lalu mengendus bau mie goring tersaji. Eh, ternyata benar, mie tersebut sudah menyimpang baunya.

‘’Ini mie kemarin ya Ma,’’ kata Anton. ‘’Iya tuh, maaf yah,’’ sahut sang istri malu-malu. ‘’Aduh, maaf nih Ma, saya nggak bisa memakannya. Mie ini sudah rusak, saya khawatir dengan perut saya,’’ kata Anton.
Lain pagi, iseng-iseng Anton ikut pesan jamu keliling langganan pembantunya. Tak tanggung-tanggung, ia mengorder jamu sehat lelaki. ‘’Pakai telur mboten, Pak,’’ tanya si Mbok jamu. Sambil mengiyakan, Anton lalu membuka tutup botol-botol jamu, lalu membauinya satu per satu. ‘’Bapak emang biasa begitu, Mbok,’’ kata istri Anton melihat kelakuan suaminya. ‘’Ya ndak apa-apa, to Bu,’’ sahut si Mbok sambil tertawa.
‘’Nah,’’ kata Anton tiba-tiba. ‘’Iki opo Mbok?’’ katanya sambil menunjukkan botol yang mengobarkan aroma alcoholic beverages.

‘’Iku anggur,” jawab si Mbok kalem.
Masya Allah, betul dugaan Anton. Ia pun lalu memberi pengertian pada penjual jamu. ‘’Tolong ini jangan diberikan untuk orang Islam, ya Mbok. Nggak boleh sama Gusti Allah,’’ pinta Anton dalam dialek Jawa. Saat itu ia belum tega untuk melarang si Mbok jualan anggur sama sekali.
Jangan kira Anton beraninya hanya pada wong cilik. Pernah, seusai mengaudit sebuah pabrik milik perusahaan besar, Anton dan rekan-rekan auditor LPPOM MUI disuguhi makan siang oleh tuan rumah. Saat itu dengan lugunya para petinggi perusahaan menyilakan tamunya menyantap makanan paket bermenu Jepang dari sebuah resto Jepang terkenal.

‘’Maaf, ini belum bersertifikat halal. Tolong saya minta nasi Padang saja,’’ kata Anton sambil menyingkirkan hidangan dari hadapannya. Warung Padang pula yang akhirnya menjadi solusi bagi tuan rumah di sebuah acara resmi di NTT, tatkala menteri Pertanian Anton Apriyantono berkunjung ke sana. Semula panitia ngeri, sambutannya bakal dinilai keterlaluan untuk menghargai seorang petinggi negara. Tapi ternyata Pak Anton makan dengan lahapnya di warung Padang itu.

Skenario tersebut susah payah di-arrange oleh Sekretaris Menteri, Dr Abdul Munif, berdasarkan pengalaman sebelumnya mendampingi Mentan di Bali. Waktu itu, panitia menjamu Mentan dan rombongan di sebuah restoran besar. Hidangan memang tidak menyuguhkan babi. Tapi, demi melihat menu babi di daftar menu reguler restoran tersebut, Pak Menteri kontan mengurungkan makan.

‘’Saya makan pop mie (yang bersertifikat halal) dan air putih saja,’’ kata Anton tanpa basa basi.
Kementrian Pertanian dan Peternakan Rumania pun pernah mencicipi ketegasan Anton Apriyantono dalam soal makanan halal. Waktu itu, mereka mengundang Mentan dan rombongan Kedubes RI di Bukarest dalam sebuah jamuan kenegaraan. ‘’Silakan, ini halal food, tidak ada babi,’’ tuan rumah yang sudah berkoordinasi dengan Sekretaris Menteri Pertanian RI, mempersilakan Menteri Anton.

Saat itu, selain menu vegetables, juga tersaji daging bison dan kalkun muda nan mengundang selera. Anggota rombongan Mentan yang memang sedang lapar, sudah membayangkan bakal bersantap besar yang uenak tenan. Olala, ternyata Pak Anton hanya memakan salad, makan roti tawar, minum air putih, lalu mengakhiri makan dengan buah-buahan. That’s all. Sebab, perkara halal bukan sekadar ada tidaknya daging babi. Daging binatang halal pun mesti dikejar lagi bagaimana cara penyembelihannya. Terlebih di negeri Barat yang umumnya tidak mengenal halal-haram.

Ketika tuan rumah Rumania setengah memaksa mencicipi hidangan besar lainnya, Menteri Pertanian hanya berucap, ‘’Sudah cukup buat saya, terima kasih.’’ Tak hanya shohibul bait yang melongo. Rombongan Pak Menteri pun terpaksa mengikuti jejak boss-nya. Anton Apriyantono dengan ketegasannya, di masa kiwari tentulah menjadi sosok pribadi asing (al ghuraba).

Kata Rasulullah SAW, “Islam bermula dalam keadaan asing (gharib), dan akan kembali di anggap asing sebagaimana bermula. Maka beruntunglah orang-orang asing itu (ghuraba)” (HR Imam Muslim).
“Siapakah Al ghuraba itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang melakukan perbaikan ketika orang-orang lain rusak” (HR Imam Thabrani dari Sahal ra).

Dalam riwayat Imam Baihaqy dan Imam Tirmidzi, maksud ghuraba adalah “Orang-orang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada manusia.” Sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad dan Imam Thabrani, maksud ghuraba adalah “Manusia shalih yang sedikit di antara manusia yang banyak. Orang yang menentang mereka lebih banyak di banding yang mentaati mereka.” (nurbowo/majalah ALIA nop 09)


Responses

  1. Alhamdulillah sy dipertemukan dgn renungan Bapak, semoga sy bs mengikutinya dan sy lbh byk lagi mendengar renungan 2x yang membuat sy lbh baik Terima kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: