Oleh: admin1970 | 24 Juli 2010

Encouragement : Sebuah renungan buat orang tua dan pendidik!



Tulisan di bawah ini sangat indah untuk menjadi renungan buat kita para orang tua, pendidik, guru  dan dosen di seluruh tanah air. Ditulis oleh Rhenal Kasali Ketua Program MM UI. Selamat menyimak dan semoga bermanfaat.
> LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada  guru sebuah  sekolah
> tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.
>
> Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak
> saya seadanya  itu  telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna,
> hebat,bagus  sekali.  Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai
> belajar bahasa.  Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah
> ditunjukkan kepada  saya  dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas.
> Menurut saya  tulisan  itu buruk, logikanya sangat sederhana.
>
> Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia  menyerah.Rupanya karangan
> itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan  bukan diberi nilai
> buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi  nilai? Bukankah
> pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah  diberi nilai
> tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu  saya protes,
> ibu  guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak  dari mana?”
> “Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun tersenyum.
>
> Budaya Menghukum
>
> Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting  bagi hidup saya.
> Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan  membangun
> masyarakat.  “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai
> berkerut, namun  tetap  simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari
> Indonesia yang  anak-anaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda,
> guru sangat  sulit  memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk
> menghukum,  melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!”
> Dia pun  melanjutkan argumentasinya.
>
> “Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda.
> Namun untuk  anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan
> bahasa  Inggris,  saya dapat  menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk
> karangan  berbahasa  Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya
> mendapat pelajaran  berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain
> menurut ukuran  kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study
> saya yang  bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.
> Sementara di  Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik
> ditengarai  ancaman  drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian
> program doctor  saya  pun dapat melewatinya dengan mudah.
> Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya
> harus  benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang
> penguji bertanya  dan  penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut
> membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan
> grafik –grafik  yang  saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami
> makin  mengerti.   Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan
> mendiskusikan  kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah
> Air, banyak hal  sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling
> menolong,  malah  ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
>
> Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau  meluruskan
> pertanyaan,  penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita
> tidak sedap  seakan-akan  kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat
> mengalami frustrasi  yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji,
> yang maaf,  menurut  hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan
> encouragement, > melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga,
> kelulusan rendah dan  yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul.
> Orang yang  tertekan  ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara
> menekan.
>
> Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul
> bagaimana  guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir
> pantaslah  anak-anak di sana mampu  menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan
> penerima Hadiah  Nobel.   Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis,
> melainkan  karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan  merusak.

Kembali  ke  pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya.
“Janganlah  kita  mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang
> sudah jauh  di  depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga
> teringat dengan  rapor  anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
>
> Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami
> kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat
> yang  mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut.
> “Sarah telah  memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan
> sungguh-sungguh. Namun  Sarah  telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya
> mendatangi anak  saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya
> ingin memeluknya  di  tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak
> objektif.   Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent
> (sempurna) ,tetapi  saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya
> dengan kacamata  yang  berbeda.
>
Melahirkan Kehebatan

> Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara
> menciptakan hambatan  dan  rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang
> dibentuk oleh  sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin
> batu akik, kapur,  dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,
> sundutan rokok, dan  seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata
> ancaman: > Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah
> menyala di  atas  kertas ujian dan rapor di sekolah.
>
> Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah  membuat kita
> menjadi  lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan
> inisiatif  dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata
> menunjukkan otak  manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil)
> atau  sebaliknya,  dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau
> dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya.
> Dengan demikian  kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun.
> Seperti yang  sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang
> kurang pintar  atau  bodoh.
>
> Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang
> tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan
> menaburkan  ancaman atau  ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan
> menghina atau  memberi ancaman yang menakut-nakuti. (*)
>
> RHENALD KASALI
> Ketua Program MM UI
>
> Source :
> http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/338297/


Responses

  1. sungguh sebuah inspirasi yang bermanfaat

  2. MUDAH2AN TULISAN INI MENGISPIRASI KITA2 INI MENGUBAH CARA2 KITA MENDIDIK ANAK2 DI RUMAH ATAU ANAK DIDIK DI KAMPUS.

  3. Indah sekali tulisannya Pak🙂

    Pembelajar memang membutuhkan dorongan yg membangun sehingga belajar menjadi sesuatu yg menyenangkan dan tidak perlu ditakuti lagi.

    Terima kasih🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: