Sungguh suatu yang menyedihkan, daerah yg disebut kota hujan, sebagian warganya mengeluh karena sumur mereka mengering. Padahal kita tahu kalau air itu kebutuhan vital setiap keluarga. Apakah gerangan yg terjadi?

Sejak munculnya beberapa perusahaan AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) ataupun perusahaan penyuplai air untuk usaha Air Minum Isi Ulang, warga disekitar perusahaan air minum tersebut merasakan dampak kegiatan over eksploitasi air. Berjuta-juta liter air disedot tiap bulannya, dan memberikan “kekayaan” luar biasa bagi perusaahan air minum. Dibandingkan perusahaan tambang yang sedikit repot harus mencari sumber tambang dan memerlukan teknologi yg tidak murah, perusahaan pengelola air minum mempunyai kelebihan mudah mencari sumber dan hanya memerlukan teknologi yg sederhana untuk meneksploitasi air.

Disinyalir perusahaan air minum itu, saat ini tidak hanya mengambil air dari sumber mata air di pegunungan, tetapi juga menyedot air tanah. Eksploitasi air tanah yg berlebihan inilah yg menyebabkan sumur-sumur warga di sekitarnya menjadi kering. Padahal sudah jelas, ada perda larangan untuk eksploitasi air tanah. Jadi siapa yg harus bertanggung jawab? Kasihan masyarakat kita…….

Posted by: admin1970 | Juli 16, 2008

Ayam Kecil…..Fenomena Masyarakat Kita Saat ini!

Pada suatu hari, seekor ayam betina kecil dan berwarna merah menemukan ceceran gabah.“Siapa yang mau menanam gabah ini?” katanya.
“Saya tidak mau,” kata anjing.
“Saya tidak mau,” kata kucing.
“Saya tidak mau,” kata babi.
“Saya tidak mau,” kata kalkun.
“kalau begitu,” kata ayam betina kecil sambil tersenyum, “Saya sendiri yang akan menanamnya.” Gabah itu tumbuh dan bersemilah dedaunannya yang hijau. Matahari menyinarinya dan hujan menyiraminya. Tanaman itu tumbuh subur, makin tinggi dan kuat. Tidak berapa lama, bulir-bulirnya sudah berisi dan matang.
“Siapa yang mau menuai padi?” kata ayam kecil itu.
“Saya tidak mau,” kata anjing.
“Saya tidak mau,” kata kucing.
“Saya tidak mau,” kata babi.
“Saya tidak mau,” kata kalkun.
“Kalau begitu,” kata ayam betina kecil sambil tersenyum, “Saya sendiri yang akan menuai-nya.” Ia segera menuai padi itu hingga selesai.
“Siapa yang mau mengirik padi ini?” kata ayam betina kecil.
“Saya tidak mau,” kata anjing.
“Saya tidak mau,” kata kucing.
“Saya tidak mau,” kata babi.
“Saya tidak mau,” kata kalkun.
“Kalau begitu,” kata ayam betina kecil sambil tersenyum, “Saya sendiri yang akan mengi-riknya.” Ia mengirik semua tuaian itu menjadi gabah.
“Siapa yang mau menumbuk gabah ini?” tanya ayam betina kecil.
“Saya tidak mau,” kata anjing.
“Saya tidak mau,” kata kucing.
“Saya tidak mau,” kata babi.
“Saya tidak mau,” kata kalkun.
“Kalau begitu,” kata ayam betina kecil sambil tersenyum, “Saya sendiri yang akan menumbuknya.” Ia menumbuk gabah itu menjadi beras.

“Siapa yang mau menanak beras ini?” kata ayam betina kecil.
“Saya tidak mau,” kata anjing.
“Saya tidak mau,” kata kucing.
“Saya tidak mau,” kata babi.
“Saya tidak mau,” kata kalkun.
“Kalau begitu,” kata ayam betina kecil sambil tersenyum, “Saya sendiri yang akan menanaknya.” Ia menanak beras itu hingga matang. Sekarang, telah tersedia nasi yang siap untuk dimakan.
“Siapa yang mau makan nasi ini?” kata ayam betina kecil.
“Sayaaaaa …,” kata anjing, kucing, babi, dan kalkun bersamaan.
“Tidak,” kata ayam betina kecil sambil tersenyum, “Saya sendiri yang akan memakannya.”

Banyak orang mau mencapai sesuatu yang enak melalui jalan pintas dan tanpa bekerja.

***
Diambil dari buku Kebenaran Pasti Menang karangan J. Darminta, SJ, hlm. 46-49.

Posted by: admin1970 | Juli 15, 2008

Coba bandingkan jadi dosen di Indonesia dan Malasyia…..

Saya postingkan, sebagian e-mail dari kolega (Dr.Nurul Huda) yg ngajar di USM Malasyia yg cerita kondisi beliau di sana, coba bandingkan dg dosen di Indonesia? (minta ijin ya pak Nurul di Posting di Blogku) Hik…Hik…Silakan berkomentar.

Ya itulah keistimewaan kita, boleh kerja nyambil-nyambil, kadang yang 

nyambilnya lebih besar dari yang core businessnya.  Agak beda dengan 

disini yang semua energi mesti akan diserap untuk core business.   

Selamat, karena sudah ada banyak yunior, sama dengan Arif saya ada 

tiga yunior juga.  11, 8 dan 5 tahun.  Anak2 ya ditanggung sendiri, 

tapi kalau disekolah negeri tidak mahal biayanya, sekitar RM120 

setahun (sekitar Rp. 350 ribuan).  

Waduh, kalau membandingkan, ndak pandai saya, karena tidak ada 

pengalaman bekerja dengan Universitas terkemuka Indonesia.  Biaya 

kuliah untuk S-1 sekitar RM4000 an per semester (kalikan saja RM 1 

sekitar Rp3000an), biaya masuk tak ada, tahun pertama wajib tinggal 

diasrama, dikampus hidup agak "terkekang", tak boleh bawa mobil, 

merokok, bus keliling kampus disediakan tiap 15 menit, wireless 

tersedia.  Kalau untuk master, biaya RM2100 per semester, boleh 

tinggal diasrama, biasanya semua biaya keperluan penelitian disediakan 

pembimbing (karena itu pembimbing mesti "kaya"), kalau 

pembimbing "kere" ia tidak disarankan untuk menerima pelajar master 

atau PhD, takut terlantar pelajarnya.  Biasanya kita perlu 

menandatangani surat keterangan punyai dana penelitian sebelum boleh 

menerima pelajar master.  

Kalau fasilitas yang saya alami, agak mudah dapat biaya penelitian, 

banyak budget disediakan, asal mau buat proporsal.  Alhamdulillah saya 

sekarang ada sekitar RM800.000, cukup untuk membantu menyediakan 

keperluan penelitian 10 pelajar master saya. Tapi walaupun ada budget 

sebanyak itu, kita tidak pernah menerima atau melihat sesenpun, yang 

ada cuma nomor rekening dan laporan tiap bulan kemana dan bagaimana 

uang itu digunakan.  Perlu bahan kimia, peralatan dan lain-lain 

keperluan penelitian tinggal panggil gudang kimia atau supplier 

company untuk menawarkan harga, seperti tender kecil2an, nanti yang 

harga paling rendah kita siapkan surat perintah pembayaranan dengan 

melampirkan alasan kenapa bahan kimia atau peralatan mesti disupplai 

oleh company itu.    Kalau mau pergi seminar, minta kantor orderkan 

tiket, hotel dan lain-lain keperluan, nanti mereka akan potong dari 

bugget penelitian kita.  Begitu juga kalau mau pergi kursus atau yang 

lain untuk menambah pengetahuan.  Beli2 keperluan lain juga dibolehkan 

asal berhubungan dengan akademik dan keperluan penelitian.  Ada kawan 

menggunakan budget penelitiaanya untuk merenovasi labornya, supaya 

pelajar lebih enjoy dan fokus melaksanakan penelitian.   Biaya 

penelitain hanya untuk penelitian saja, tidak dibolehkan dimasukkan 

honor kita.  Jadi walau sebanyak apapun dana penelitian kita, ia tidak 

akan menambah gaji kita.  Ia hanya akan memberikan banyak kemudahan 

pada kita untuk mewujudkan ambisi akademik.

Dr. Nurul Huda

Food Technology Division, School of Industrial Technology-Universiti 

Sains Malaysia

Minden, Penang, 11700, Malaysia


Older Posts »

Kategori